Keluarga KeluargaTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
parenting

Rutinitas Pagi yang Berantakan: Belajar dari Keluarga Sehari-Hari

Refleksi jujur tentang rutinitas pagi bersama balita di Rantepao. Belajar menerima kekacauan dan menemukan momen berharga dalam keluarga sehari-hari.

9 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Ricky Hasibuan Rahardjo
Rutinitas Pagi yang Berantakan: Belajar dari Keluarga Sehari-Hari

Pagi hari di rumah kami selalu diawali dengan suara langkah kecil dan pintu kamar yang didorong paksa. Anak pertama saya, si bungsu, sudah berdiri di samping tempat tidur dengan mata masih setengah menyipit, tapi mulutnya sudah cerewet minta susu. Saya dan istri saling pandang—siapa yang kalah dalam rebutan bangun lebih awal. Hari-hari seperti ini, yang disebut keluarga sehari-hari, sering terasa melelahkan tapi juga menggemaskan. Di Rantepao, tempat kami tinggal, pagi seperti ini sudah jadi pemandangan biasa. Setelah dua tahun menulis soal pengasuhan, saya makin sadar: tidak ada rutinitas yang sempurna, yang ada hanya usaha untuk terus mencoba.

Menemukan Ritme ala Kami Sendiri

Setiap keluarga pasti punya caranya masing-masing. Saya dan istri memilih sistem giliran: satu orang urus anak, satu orang siapkan sarapan. Kadang berhasil, kadang berantakan. Anak saya yang berusia dua tahun sering mogok saat disuapi bubur MPASI buatan sendiri. Saya sudah coba berbagai resep, dari pure labu kuning sampai bubur ayam cincang, tapi tetap saja ada hari di mana semua berakhir di lantai. Menurut situs IDAI, masa transisi MPASI memang butuh kesabaran ekstra karena balita sedang belajar tekstur dan rasa. Tapi mendengar itu dari dokter tidak semudah menjalaninya sendiri. Yang saya pelajari adalah menerima bahwa tidak semua pagi berjalan mulus. Kadang kami bertiga hanya duduk lesehan di ruang tengah sambil sarapan roti selai pisang, sambil anak saya tertawa karena ia berhasil memasukkan potongan roti ke mulutnya sendiri. Momen sederhana itulah yang membuat semua kekacauan pagi terasa worth it.

Pagi-pagi begini, saya juga sering lupa ngopi dulu sebelum mulai aktivitas. Kadang malah langsung sibuk ngurusin si kecil sampe lupa diri. Istri saya selalu bilang, "Bang, ngopi dulu gih, biar nggak baperan." Tapi ya gitu deh, seringnya saya malah langsung keasikan ngajak anak main atau nyiapin sarapan. Padahal kopi itu penting banget buat saya, biar bisa lebih fokus ngadepin hari yang panjang.

Keluarga sehari-hari bukan tentang jadwal rapi atau rumah selalu bersih. Lebih dari itu, soal bagaimana kita saling menopang saat semuara kacau balau. Di Rantepao, saya belajar bahwa kebersamaan pagi—meski hanya sepuluh menit sambil menahan kantuk—adalah fondasi kecil yang akan diingat anak nanti.

Tag: #parenting #keluarga #rutinitas anak #balita